Site menu:

Archives

Recent Posts

Categories

Recent Comments

Visitor Map

User Online

website counter

Kunjungan

Site search

Categories

March 2010
M T W T F S S
« Aug    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tags

Links

Membagi Waktu

Akhir akhir ini saya agak “keteteran” juga dalam membagi waktu. Banyak sekali undangan selamatan orang mau naik Haji dan pesta pernikahan. Sehingga mengisi hari sabtu dan minggu dengan padatnya.

Logikanya saya akan santai sekali karena jadwal mengajar saya hanya Rabu dan Kamis. Tapi kenapa saya jadi seperti sibuk sekali begini ya? Apa saja yang saya lakukan. Yah setelah saya pikir pikir, tuntutan bekerja dari otak saya lah yang membuat saya jadi tidak pernah bisa istirahat berpikir. Membuat tulisan, menulis buku buku saya yang empat buah menanti penerbitannya. Menulis konsep dan ide ide saya baik untuk karya ilmiah, penelitian ataupun untukprogram yang akan datang.

Itu semua dapat saya lakukan dengan “khusuk” dibelakang meja 2×1 di rumah saya. Awalnya memang saya ingin menjadi orang rumahan saja, setelah menyelesaikan study S3 saya, saya akan menyusun kredit dan mempersiapkan untuk kejenjang profesor, sambil menjaga ibu saya yang sakit. Ternyata saya tidak mampu menolak kenyataan bahwa ibu saya telah dipanggil Allah swt, tanggal 6 Oktober 2008 dan pada tanggal yang sama pula saya diangkat menjadi staff ahli gubernur bidang transportasi. Mungkin memang bagian hidup saya harus mengabdi dan bekerja di lapangan. Sampai sampai mengisi blog sayapun agak keteteran. Padahal banyak sekali yang ingin saya bicarakan dan bahas di blog. Terpikir juga ingin mencari asisten, tapi apakah ada yang mau ya? Saya tidak yakin ada yang mau karena ketidak pastian lama kontrak kerja saya itu. Anyway, saya tetap akan mencari asisten yang mau bekerja sama dengan saya membangun bangsa ini, dengan kemampuan kita yang sangat minim ini.

Tanggal 28 Oktober 2008, saya akan mengikuti symposium tahunan FSTPT XI, di Universitas Diponegoro, Semarang. FSTPT ini diprakarsai oleh beberapa profesor Transportasi (ketika itu mereka masih doktor dan masih muda) serta didukung oleh beberapa Universitas yang hadir pada saat pembentukannya yang difasilitasi oleh HEDS-JICA (Higher Education Support)- JICA termasuk Universitas Sriwijaya. FSTPT ke VIII tahun 2005 yang lalu diselenggarakan oleh Unsri sebagai tuan rumahnya, dan sekarang oleh Undip. Uniknya simposium yang tanggal 29-30 Oktober 2008 ini adalah bersifat internasional dan menggunakan dua bahasa, yaitu Inggris dan Indonesia. Saya akan menyajikan makalah saya pada simposium yang berbahasa Inggris, insyaallah.

Tanggal 28 Oktober juga kami pengurus pusat INKAI mengadakan halal bihalal di Balai Kartini jalan Gatot Subroto. Alhamdulillah, saya kebagian pembagian waktu yang sama sehingga dua dua kegiatan bisa jalan. Pagi saya akan ke Jakarta dan makan siang dengan teman teman pengurus diacara halal bihalal, kemudian malamnya ke Semarang. Workshop akan dilaksanakan tanggal 29 dan Simposium tanggal 30 Oktober 2008. Tanggal 31 Oktober saya akan kembali ke Palembang setelah sehari menginap dulu di Jakarta. Ada banyak hal yang dapat saya kerjakan selama satu hari di Jakarta.

Harapan saya selama diperjalanan mudah mudahan saya dapat menyelesaikan banyak tulisan saya yang tertunda dan dapat mewarnai blog saya ini lagi dengan tulisan tulisan saya.

In memoriam mama Hj. Halimah Tamin, 6 Oktober 2008

Bertahun tahun saya belajar hidup, banyak kali pula saya menasehati teman yang berduka karena kepergian orang yang dikasihinya ke alam baka, tapi baru kali ini saya harus mampu menasehati diri sendiri untuk ikhlas menerima kenyataan berpisah dengan mama.

Saya tulis kenangan untuk mama ini bukan untuk cengeng atau memanjakan diri sendiri. Tapi untuk lebih banyak mengenang pelajaran dan keteladanan yang diberikan beliau sepanjang hidupnya. 

Diwaktu kecil beliau tak pernah kehabisan bahan untuk mendongeng sebelum tidur, yang setelah besar baru saya sadari hal itu telah membuat diri saya terpacu untuk menjadi tokoh dalam dongeng tersebut. Tokohnya adalah si Ani. Bermacam cerita berkaitan dengan kehidupan sehari hari dilakoni oleh si Ani tersebut. Si Ani yang pintar ini, yang pintar itu. Si Ani yang berguna bagi tetangga, bagi temannya. Si Ani yang sabar. Si Ani yang jujur dsb dsb….

Yang utama dikenalkan adalah disiplin dalam beragama. Habis sholat magrib menjelang Isya kita wajib mengaji. Sehingga ketika masih SD kita diwajibkan sudah khatam Al Quran. Mulai kelas 1 SD kita mulai belajar puasa. Masih ingat saya ketika kecil mengikuti ceramah Kiyai di Mesjid, padahal ketika itu saya belum mengerti benar apa isi ceramah tersebut. Yang saya ingat adalah beliau selalu membawa secerek air teh manis dan saya memegang segelas susu coklat untuk penceramah. Waktu itu saya masih SD. Ketika nuzul Quran sayapun ikut lomba baca Al Quran. Walaupun saya cuma juara harapan, tapi yang penting semangat kompetisi untuk berbuat yang terbaik itu sudah ditanamkan beliau sejak kami kecil.

Tahun 1974, TVRI di Palembang mulai siaran. Kamipun dapat menonton TV hitam putih pada saat itu. Tapi kami hanya boleh menonton kalau sudah mengaji dan membuat PR. Tentu saja hanya tersisa sedikit waktu untuk nonton tv karena pada masa itu tv tutup siaran jam 10 sampai jam 11 malam.

Beliau memacu kami untuk “pintar” dalam belajar maupun dalam kehidupan sehari hari. Sayapun dibiarkan main bebas dengan tetangga. Beliau selalu berbuat dan berhitung dengan tepat. Walaupun kami bukan anak orang kaya, dan mama hanya ibu rumah tangga biasa, tapi kami dijamin tidak kekurangan makanan, pakaian dan buku buku serta keperluan sekolah yang kami perlukan. Kami pun dapat bersekolah di sekolah yang berkualitas dengan bayaran yang tidak murah. Meskipun setiap tahun beliau selalu menghadap kepala sekolah untuk meminta diturunkan uang sekolah kami (entah bagaimana caranya, mungkin beliau membawa slip gaji papa, kami tidak tahu tepatnya bagaimana).

Yang paling memalukan waktu saya kecil adalah bahwa saya tidak pernah jajan karena tidak boleh jajan. Uang saku saya tabung dan belikan bahan baju, saya harus belajar menjahit dengan mama. Akhirnya saya betah dengan membawa bekal nasi dan minum dari rumah, dan betah menabung untuk praktek menjahit. Akhirnya ketika SMA kelas 1 saya sudah dapat memecah pola dan membuat bemacam macam model baju. Hal ini ternyata berguna ketika saya di Inggris, disana saya membeli mesin jahit dan menjahit baju saya sendiri. Ketika tamat SMA saya tidak muluk muluk, keinginan saya cuma ingin menjadi designer terkenal yang bersekolah ke London. Tapi apaboleh buat karena tidak ada sekolahnya di Palembang sayapun mendaftar di Teknik Sipil. Satu satunya pilihan saya waktu itu. Meskipun beliau tidak sekolah tinggi, tapi beliau ingin saya meneruskan pendidikan saya dan hingga nantinya saya menjadi professor. Supaya makin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari keberadaan kita, katanya.

Mama tidak pernah istirahat. Selain mengurus kami anaknya yang cuma dua orang perempuan semua ini, mama juga pintar menjahit dan memasak. Beliau juga pernah menyewakan pakaian pengantin dan membuatkan kue pengantin yang 3 tingkat itu. Keahliannya banyak sekali dibidang rumah tangga.

Tapi yang mencengangkan adalah kemampuan matematis dan berhitungnya. Mama selalu tepat dan cepat dalam menganalisis mengambil keputusan. Sifatnya yang antisipatif ini sangat berguna dan sekarang saya sadari perlu dicontoh dan ditiru. Ternyata kesempurnaan manajerial dapat juga dilatih dalam scope kecil yaitu rumah tangga. Pada waktu itu, seorang istri pegawai pertamina sangat sibuk dalam organisasinya dan beliau juga aktif ke Sungai Gerong. Dengan kata lain, kami juga sering ditinggal dan pulang dari sekolah tidak menemukan beliau dirumah. Tapi, kami tidak kehilangan karena semua sudah tersedia, terjadwal dan beberapa jam kemudian beliau sudah berada dirumah.

Yang perlu saya catat dengan tinta merah adalah beliau tidak pernah mengeluh capek, sakit, ngantuk atau malas dalam mengerjakan tugas tugas rumah atau tugas organisasi. Sementara saya kalau capek bekerja, buru buru istirahat dulu kemudian baru kerja lagi, sehingga waktu kerja jadi “molor” sampai malam sekali.

Kejujuran mama dalam keseharian sangat menonjol. Pada waktu di restoran bila beliau mau menggunakan tusuk gigi ketika kami makan di restoran, maka beliau memintanya terlebih dahulu. Ketika sudah meinggal kejujuran beliau ini dikenang dan jadi contoh bagi suster yang merawatnya dirumah. Beliau minta dibelikan sayur bayam dari tukang sayur yang lewat. Ketika terbawa cung kediro (sejenis tomat kecil) beliau menyuruhnya mengembalikan ke tukang sayur tsb.

Semua teman kami adalah anak bagi beliau, sehingga beliau dengan tulus ikhlas ikut begadang dan menyediakan makan malam kami, yang kadang kadang membawa puluhan teman. Sekali lagi, kami tidak jajan melainkan makan masakan beliau. Sehingga sampai saat ini mama dikenang teman teman akan masakan rendang kacang dan nasi gorengnya yang enak.

Ketika melepas dan menghadapi saat saat terakhir beliau ketika akan meninggalkan dunia ini, saya baru menyadari bahwa kebaikan itu adalah suatu investasi jangka panjang. Menanam kebaikan, amal dan ibadah harus sejak dini, serta harus konsisten bukannya musiman. Amal dan kajian beliau banyak sekali dan itu dilakukan terus menerus, secara konsisten. Konsisten, itu yang paling sulit kita pelajari dan kita atasi. Terutama iman kita sering naik turun, ibadah kita kadang banyak kadang minim dan pas pas an. Ternyata konsisten itu berasal pengusaan diri, pengalahan diri sendiri. Kita semua tahu kalau mengalahkan orang lain lebih mudah dari mengalahkan diri sendiri. Inilah hal yang paling sulit untuk dipelajari.

Selain itu, mama orangnya lemah lembut, suka senyum dan sepertinya tidak pernah marah. Kalau beliau marah sekali maka beliau akan bungkam saja dan kita rasanya “terhukum mati” dengan sikap mama yang seperti itu. Alangkah tegas kepemimpinannya. Saya ingat ketika saya pulang menjelang akhir hayat alm papa tahun 1988. Tiga bulan saya tetap di Jakarta tidak mau kembali ke Inggris, terhanyut menangis, putus semangat dan tidak mau meneruskan kuliah master saya yang tinggal ujian Thesis saja lagi.  Tapi beliau tegas menyuruh saya kembali ke Inggris, sehingga saya tidak dapat tidak harus kembali meneruskan sekolah yang tertunda karena meninggalnya alm papa.

Demikian juga menjelang saya menyelesaikan studi, enam bulan (Jan - July 2008) saya harus menunggu koreksian dan persetujuan kapan harus ujian Thesis S3 saya di Belgia. Bulan April beliau sakit dan sejak itu semakin menurun kekuatan fisiknya. Tapi beliau tegas, marah dengan suara tegas melarang saya pulang. Target beliau saya harus selesai doctor nya. Meskipun tiap malam chatting (yang membanggakan beliau tidak gaptek dan bisa menjawab call saya melalui skype dengan menyentuh tombol dilaptop yang sudah distel), mama selalu seperti orang optimis dan tidak sakit. Demikian juga pagi hari selalu saya telp, mama selalu menjawab dengan semangat. Padahal saat itu beliau sedang kesakitan yang luar biasa. Saya tertipu. Begitulah kerasnya keinginan beliau supaya saya dapat fokus ke Ujian. Mama tahu betul kalau saya tahu bagaimana sakitnya mama, pasti saya pulang dan tidak akan peduli dengan ujian doktoral saya dan segala hal lainnya.

Begitulah, ketika saya pulang baru beliau dengan ikhlas dimasukkan ke Rumahsakit dan dirawat sampai sembuh dan kulit yang keriput mulai terisi kembali. Semua seperti menghibur dan menghapus rasa bersalah saya. Pada hari lebaran pertama, mama sudah tidak tahan lagi minta dirawat di RS. Akhir umurnya sudah dirasakan mama sehingga sebelum ke RS beliau sudah berpesan menyiapkan kain kafan dan kain panjang yang selama ini sudah disimpan dilemari.

Mama adalah sosok ibu yang sempurna, taat, disiplin, penuh kasih dan dedikasi serta penuh inspirasi. Sampai sekarang saya merasa beliau masih memelukku dengan hangat dan memberi semangat untuk berbakti kepada keluarga dan bangsa.  Terimakasih Allah telah memberikan orang tua yang penuh keteladanan bagi kami anak anaknya. Semoga Allah mengampuni segala dosanya, dan memasukkan serta mempertemukan mama papa di syurga. Amin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H

Saya sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Mohon maaf lahir dan batin

Semoga kita kembali fitrah dan

segala amal ibadah diterima oleh Allah swt. Amin

Hasan Basri & Erika Buchari

TERMINAL

Lima hari menjelang hari Raya Idul Fitri saya menerima telepon wawancara tentang Terminal. Seperti yang sudah sudah kalau diwawancara biasanya si penanya akan sulit mengartikulasikan pertanyaannya dan permasalahannya. Yang jelas mereka merasa mengapa ada masalah dengan terminal kita sampai sampai bus dan kendaraan travel tidak mau masuk ke Terminal.

Untuk lengkapnya saya akan tampilkan tulisan yang sudah pernah saya muat ini di majalah Solusi, Dewan Kota Palembang (Organisasi Sosial, bukan Dewan Perwakilan Kota).

TERMINAL 

Mengapa orang tidak mau masuk Terminal? Apakah karena bagi sebagian orang Terminal tidak menyenangkan? Pertanyaan ini selalu datang ke benak kita. Banyak sekali contoh Terminal yang tidak populer bahkan tidak terpakai di Pulau Sumatera ini.

Terminal seharusnya dapat menjadi tempat konsentrasi penumpang yang maksimal, dimana penumpang dapat berkumpul dan mendapatkan dengan mudah apa yang mereka inginkan disana. Hal ini akan terwujud bila semuanya diusahakan secara profesional dan “independent“. Ada tiga hal yang harus dijamin oleh Terminal yaitu:

  1. Adanya “concentration”  atau konsentrasi penumpang.
  2. Adanya “connection” atau hubungan dari tempat asal ke Terminal
  3. Adanya “distribution” atau sebaran perjalanan dari Terminal ke tempat yang akan dituju oleh penumpang.

Seringkali ketiga hal tersebut tidak dapat dipenuhi oleh pengelola Terminal. karena ada beberapa masalah, antara lain:

  1. Infrastruktur jalan dan tempat parkir di Terminal dalam keadaan rusak.
  2. Letak Terminal tersembunyi dibalikpasar.
  3. Lahan Terminal terpakai untuk Pedagang Kaki Lima.
  4. Penumpang sulit mendapatkan rute penghubung yang diinginkan (terlalu banyak pergantian angkutan umum)
  5. Pintu Terminal tertutup oleh kendaraan yang berhenti, menurun naikkan penumpang dipintu Terminal. Akibatnya kendaraan dan penumpang tidak mau masuk Terminal yang sudah semrawut dari pintu masukknya.

Pertanyaannya adalah bagaimana mengetahui minat penumpang dan bagaimana cara memenuhinya agar Terminal menjadi populer dan disukai banyak penumpang maupun operator kendaraan.

Terminal sesungguhnya dapat dijadikan sumber keuangan bagi daerah dalam jumlah yang lebih besar dari sekedar pungutan retribusi biasa yang tanpa target. Pemasukan dan Pengeluaran Uang dapat jelas dilihat dan dinterpretasikan sebagaimana gambar 1, dibawah ini yang menunjukkan arus sumber uang masuk dan keluar. Untuk sumber pemasukan dapat dibuat dengan jelas dan transparan, dapat diketahui dari hasil survey perhitungan kendaraan jumlah angkutan yang masuk ke Terminal,  jumlah orang/pengantar yang menggunakan peron dan ruang VIP,  jumlah pengguna parkir khusus dan penyewa loket dan ruang ruang di Terminal.

Transparansi ini akan lebih jelas lagi bila telah ada “detector”, yaitu alat penghitung kendaraan, yang ditempatkan dipintu masuk. Alat mekanik dapat ditanamkan di perkerasan jalan pintu masuk atau dapat juga menggunakan alat CCTV yang lebih modern dapat merekam jelas semua jenis kendaraan dan dapat diterjemahkan langsung kedalam komputer berupa angka jumlah kendaraan. Sistem informasi bagi kendaraan di terminal akan sangat mempermudah pelanggan dan menguntungkan Pengusaha Terminal. Angka yang mengagetkan diperoleh dari hitungan secara kasar pemasukan Terminal Keramasan Palembang, tanpa memperhitungkan kebocoran, memperoleh 25 hingga 30 juta rupiah perhari. Jadi betapa pentingnya alat detector yang dapat menghitung kendaraan secara terus menerus guna menghindari kebocoran pemasukan. Kalau dikelola lebih intensif lagi, dengan investasi disana sini, penghasilan dapat ditingkatkan menjadi 50 juta rupiah perhari. Alat inipun dapat dengan mudah dibeli dari uang pemasukan Terminal tersebut. Maka jumlah dan jenis kendaraan yang tidak mau masuk ke Terminal pun dapat terdeteksi dengan jelas dan dapat dikenakan sangsi hukum dan sangsi sosial (karena dapat ditayangkan di televisi lokal).

Selain itu, pengeluaran dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga pengeluaran menjadi efisien dan efektif. Uang untuk biaya keamanan dan lingkungan selayaknya diperhitungkan dengan jelas. Bila memakai tenaga mantan preman sebagai penjaga keamanan di lingkungan tersebut, hendaknya mereka diperhitungkan dengan gaji yang sesuai, bukan berdasarkan “bagi hasil” dari pendapatan yang mereka peroleh dengan “melindungi dan mengawasi” kendaraan di Terminal. Sistem bagi hasil ini tidak efisien dan tidak terukur. Lagipula mereka tidak memiliki saham atas adanya Terminal dan lahan Terminal ini adalah milik negara bukan milik preman yang bertempat tinggal disekitarnya. Jumlah kendaraan yang masuk ke Terminal selama 24 Jam selalu terukur dan tidak dapat termanipulasi dengan sistem dagang atau bagi hasil, atau sistem yang selama ini selalu membuat kebocoran disana sini, termasuk akibat kendaraan yang membangkan tidak mau masuk ke Terminal.

Peraturan Daerah mengenai Terminal hendaknya bukan hanya memuat pasal pasal pembinaan dan retribusi saja. DPRD dan pemerintah harus bekerja lebih keras lagi membuat peraturan peraturan yang berkembang dari kasus kasus yang ada Terminal yang ada.  Jangan sampai terjadi DPRD merasa “berkuasa” atas pemerintah, dan setiap ada kehendak membuat Peraturan Daerah, maka pihak eksekutif dicukur habis dengan minta dikirim study banding untuk belajar membuat Perda dari kota lain. Study banding untuk DPRD dalam hal pembuatan Perda bukanlah hal yang penting, kalau memamng mau mendapatkan ilmu tentang Terminal atau perencanaan lainnya mengapa tidak diadakan kursus saja yang intensif. Atau sesuai dengan UU No.22 tahun 1999 yang direvisi menjadi UU No. 32 (sayangnya pada produk revisi ini hal tersebut tidak dibahas) legislatif dapat merekrut ahli Transportasi lokal atau dari luar untuk membantu mereka dalam menimbang dan mengkaji soal Perda Terminal ataupun Perda perda lain yang dibutuhkan.  Seyogyanya makin banyak masalah, makin banyak pula mata pasal peraturan yang diciptakan untuk mengatasi masalah bersama. Diharapkan kedepan pengelolaan Terminal dapat dikembangkan sebagai berikut:

  1. Pengelolaan Terminal dipimpin oleh Direktur Perusahaan Daerah, BUMD atau Swasta Penuh, yang independen dan profesional.
  2. Dilakukan kerjasama registrasi kendaraan antar kota, kabupaten dan propinsi.
  3. Perlu dilengkapi dengan alat detector untuk merekam jumlah kendaraan yang masuk ke Terminal setiap waktu, sehingga jumlah uang masuk dari retribusi dapat diaudit setiap saat. Demikian juga dengan uang keluarnya.
  4. Membuat sistem informasi Online untuk kepentingan PO Bus yang berkantor di Terminal, dilengkapi dengan sambungan telepon dan internet. Hal ini untuk meningkatkan minat penyewa loket.
  5. Memperhatikan sambungan hubungan kendaraan ketempat yang dituju penumpang, untuk itu diperlukan pengaturan rute yang tepat.
  6. Membuat “Time Schedule” atau jadwal untuk terminal dalam setiap Rute.
  7. Memberikan kemudahan kepada penumpang untuk beralih angkutan dari dan keluar kota dengan angkutan carter terminal yang murah dan non komersial, guna peningkatan minat PO Bus dan penumpang terhadap keberadaan bus.
  8. Perlu fleksibel dalam menetapkan tariff kepada PO untuk mengantisipasi pesaing PO BUS (angkutan VAN WISATA), serta angkutan udara yang bertarif murah.
  9. Mengembangkan aturan antara pihak Terminal dengan Kaki Lima, pemberi izin kepada Pedagang Kaki Lima, sopir, penumpang, pengusaha, petugas, aparat penegak hukum dan stakeholder lainnya agar semua pelanggaran dapat dijerat hukum. (Tidak ada pelanggar yang kebal hukum)

Mulai sekarang sebaiknya dihentikan kebiasaan kita mencari uang ditempat yang salah. Contoh: Terminal adalah tempat konsentrasi penumpang. Pedagang kaki lima “diizinkan” berdagang di terminal dengan pungutan uang tertentu dan perlindungan pihak tertentu. Kendaraan umum menurun dan menaikkan penumpang di pintu Terminal, untuk perlindungan kesalahan ini preman menerima uang, dan oknum aparat menerima uang setoran dari preman tersebut. Uang yang salah demikian tidak cukup untuk membuat pelakunya kaya dengan layak dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah maupun kepada masyarakat.

            Mengapa tidak membuat bisnis lebih banyak di Terminal? Kalau di lihat mengapa sopir truk banyak istirahat di sepanjang jalan di warung warung kecil? Karena disana ada penginapan murah. Mengapa tidak membuat penginapan murah dan tempat hiburan di Terminal? Mengapa tidak di buat pusat perbelanjaan Carrefour atau Matahari atau investor apa saja di dekat Terminal? Dari pada menyambung bus/oplet setelah dari terminal, penduduk kabupaten sekitar Palembang pasti senang untuk berbelanja di tempat yang dapat ditempuh jalan kaki dari terminal. Orang sekitar dapat menyediakan jasa angkutan trolley atau kereta dorong langsung menuju terminal ke angkutan umum yang diinginkan. Mengapa tidak berbisnis dan mencari uang besar yang halal, ketimbang mengeroyok dan mengais rejeki di tempat yang salah?

gambar-arus-uang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANGKUTAN UMUM MULTIMODA, SEBUAH PILIHAN PERENCANAAN TRANSPORT BERKESINAMBUNGAN

Perencanaan transportasi yang berkelanjutan (sustainable transport) sudah menjadi bagian yang tidak terelakkan  saat ini. Kenaikan harga BBM yang demikian melonjak tahun ini  menunjukkan indikasi bahwa perencanaan transportasi yang memboroskan bahan bakar sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Paradigma sudah berubah, dari menggunakan bensin sekarang orang mulai melirik kendaraan berbahan bakar alternatif seperti tenaga listrik dan baterei. Kendaraan dengan menggunakan BBM kalau masih dapat bertahan, tentunya akan lebih efisien dan efektif bila terpadu dalam bentuk angkutan umum multimodal (MMPT).

            Negara yang telah menghapus subsidi untuk jasa angkutan umum dan menyerahkan pengusahaan angkutan umum kepada pengusaha kecil (small enterprises), mempunyai masalah dengan jumlah angkutan umum yang berlebihan. Masalah mereka sekarang adalah bagaimana mengurangi jumlah angkutan umum yang tumbuh lebih cepat dari yang dibutuhkan, dan bagaimana mengelolanya secara efisien dan efektif.

Diantara beberapa peneliti dunia, Pucher (2005) dan Gwilliam (2001), mengatakan bahwa angkutan umum di Negara berkembang sangat buruk keadaannya, ditambah lagi banyaknya kekurangan dalam kebijakan dan peraturan. Banyak referensi di negara berkembang Amerika Latin dan Asia menyimpulkan bahwa kondisi angkutan umum tidak baik seperti; persaingan yang tidak sehat antar operator, perilaku mengemudi yang tidak beraturan dan ada beberapa yang brutal untuk berebut penumpang, berhenti di sembarang tempat dsb; masalah organisasi yang tidak mendukung kepada perkuatan ekonomi bagi para pengemudi, serta tidak adanya organisasi operator yang dapat memperkuat eksistensi mereka. Selain itu masalahnya adalah tidak adanya sistem yang baku bagi pemerintah untuk mengelola angkutan umum secara efektif dan efisien yang dapat dipantau terus menerus perkembangannya. Hal ini terlihat dari tidak adanya organisasi khusus untuk badan pengatur angkutan umum, seperti public transport authority, yang diharapkan dapat terus menerus mengembangkan sistemnya untuk kepentingan publik (masyarakat). Bila kita melihat negara yang telah maju, mereka sudah menyadari kepentingan sosial bagi warganya, selalu mengembangkan tingkat pelayanan bagi publik, termasuk angkutan umum bagi masyarakat. Meskipun sudah maju pelayanan angkutan umumnya, masih saja mereka mempunyai masalah antara lain tentang keberlanjutan transportasi, bahan bakar semakin langka, peralihan tenaga bahan bakar minyak  kelistrik, bio-fuel, dan batere juga dipikirkan mereka. Namun pemborosan energi disektor Transportasi semakin menjadi, karena kemakmuran penduduk di negara maju menyebabkan penggunaan angkutan pribadi sangat tinggi. Masalah besar bagi mereka adalah bagaimana mengurangi pemborosan energi yang tidak terbarukan ini, dan dengan demikian bagaimana menciptakan angkutan umum yang nyaman efisien dan efektif senyaman angkutan pribadi, sehingga dapat menarik penumpang angkutan pribadi menjadi penumpang angkutan umum secara tetap. Langkah dan terobosan untuk ini dikenal dengan melakukan sistem angkutan umum yang terpadu, terkombinasikan dengan baik, efisien dan efektif sehingga orang dapat berpindah dari satu jenis angkutan ke angkutan lainnya dengan cepat, murah dan nyaman.

Bagaimana membuat pergantian dari satu jenis angkutan umum (moda) ke angkutan umum lainnya dengan cepat? Kemudian, bila melihat posisi negara berkembang sekarang, dengan segala keterbatasan dan kekurangan sistemnya, bagaimana angkutan umum dapat dikembangkan? Sebaiknya angkutan umum tidak dikembangkan secara unimodal, tetapi sudah dipersiapkan kearah multimodal. Karena apa? Bila pengembangan angkutan umum seperti saat ini, dengan konsep unimodal, maka akan terjadi banyak kendala pada pelaksanaannya nanti. Orang malas menggunakan angkutan umum karena sulit pada saat pergantian moda, waktu menunggu yang lama, tempat pergantian yang tidak nyaman, jumlah pergantian angkutan yang tidak menentu dan akhirnya menyuburkan tumbuhnya angkutan umum yang tidak resmi seperti ojek, omprengan dsb.

System perencanaan strategis digunakan untuk mendapatkan hasil yang akan bermanfaat dalam jangka panjang. Langkah pertama menuju perencanaan angkutan umum multimoda adalah dengan mengembangkan perangkat systemnya terlebih dahulu. (Buchari, 2008)

PERSAHABATAN

Sudah lama juga saya tidak berhubungan dengan teman teman lama, tentu sebagian ada yang berubah menurut waktu dan profesionalisme mereka. Saya pun maklum, karena ada yang sangat efisien dalam berkomunikasi kembali dengan saya, ada yang hangat dan ada yang tidak sempat merespon.

Itulah sahabat, kita maklum dan sangat mengerti satu sama lain. Disinilah kita memberi ruang gerak kepada sahabat tadi untuk menjadi dirinya, bukan menjadi apa dan sepeti siapa yang kita inginkan.

Sahabat adalah orang terpenting yang pernah dan akan selalu mengisi ruang hati kita. Bila mana dia tidak hadir maka ruang tersebut kosong tetapi tidak pernah hilang dari hati kita. Tahun ini saya bahagia, karena sahabat lama yang pernah hilang kini kembali mengisi ruangnya dihatiku. Tempat kami yang jauh dan profesi yang berbeda membuat kita tidak pernah mengisi ruang ruang dihati tadi dengan memori baru. Tapi kami berjanji akan selalu berkomunikasi kembali.

Tapi ditahun ini juga saya kehilangan sahabat kecil. Baru setahun kami mengadakan reuni SD dan SMP, dan baru setahun kami memutar ulang sejarah masa kecil kami, tiba tiba dia pergi dipanggil Allah ke kehidupan yang kekal.

Itulah sahabat, kita tidak berarti tanpa adanya sahabat. Saya berbahagia memiliki sahabat yang dengan tulus mendoakan, merindukan dan menangisi saya, demikian juga saya terhadap mereka. Jarak yang jauh selama saya di Belgia tidak menjadikan hambatan bagi teman teman lama untuk mendoakan, mengingat dan membantu meringankan beban batin saya. Tapi saya sedih, belum sempat berterimakasih kepadanya dia sudah pergi untuk selamanya. Meskipun sahabat telah pergi untuk selamanya, dia tetap tinggal dihati kita dengan kenangannya.

Itulah persahabatan yang murni, yang tidak dapat ditukarkan dengan apapun apalagi dengan fitnah dan prasangka buruk. Saya bersyukur karena masih diberi Allah banyak sahabat.

TREN KEPEMIMPINAN DAN CALON LEGISLATIF SEKARANG

Suatu hari di parkiran Palembang Trade Centre beberapa minggu yang lalu, saya berjumpa dengan “kenalan lama” seorang tokoh yang tidak perlu disebutkan namanya. Intinya sang tokoh mendorong saya untuk menjadi caleg. “Sekarang sangat dibutuhkan caleg perempuan, belum memenuhi quota 30%” katanya.

Para pembaca yang budiman, yang ingin saya bahas adalah bukannya tentang keinginan saya untuk jadi caleg DPR atau tidak, dan tentang pantaskah saya jadi caleg DPR. Saya lebih senang membahasnya dari kerangka sistem. Bagaimana kita membangun negara dan bangsa kita ini secara sistematis dan tidak terjebak pada trend politis dan kehendak kerumunan yang ada (banyak orang, meminjam istilah Eep Saifullah, 2008).

Sekarang ini ada fenomena baru yang berkembang didunia politik kita. Sementara kita menantikan para tokoh yang “terpendam” oleh runtuhnya kerangka sistem, kita menyaksikan ramainya partai partai yang merekrut artis untuk “menang” dalam pilkada. Partai partai tersebut sudah gagal dalam memunculkan orang yang mampu menjadi pembuat sistem, orang orang spesial yang terdidik dan berpengalaman. Partai partai lebih senang merekrut para artis, karena para artis tersebut sudah dikenal oleh masyarakat. Tak perlu lagi partai membantu memperkenalkan seorang tokoh yang baru akan dimunculkan kepada masyarakat. Partai sudah gagal mendidik masyarakat untuk tahu hak hak masyarakat dalam menuntut perbaikan suatu keadaan di negeri kita, yaitu hak untuk mendapatkan sistem tata negara yang baik, menolak sistem yang salah seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan hak untuk mempertahankan hal hal yang baik yang pernah masyarakat miliki sebelumnya dengan memperhatikan sustainable development.

Ada tiga hal yang akan saya jawab bila seseorang mengajak saya jadi celeg DPR, yaitu pertama saya harus tetap boleh menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri, kedua saya tidak perlu kampanye sendiri (partailah yang harus mengkampanyekan saya), ketiga saya tidak mau keluar uang untuk proses menjadikan diri saya seorang calon legislatif. Tentu saja semua orang yang mendengarkan jawaban saya tadi akan tertawa dan menganggap saya bercanda. Padahal saya serius sekali. Saya hanya menuntut hak saya untuk dapat membela negara. Saya tahu negara ini perlu sistem. Peraturan peraturan yang “digodog” di DPR kebanyakan tidak kuat naskah akademiknya. Sehingga untuk menggolkan sebuah produk Undang undang atau Peraturan Pemerintah sering harus membiayai study banding, dan biaya suap yang akhir akhir ini banyak terbukti.

Seorang artis boleh saja tetap menjadi artis, seorang pengusaha tetap saja menjalankan usahanya dari balik layar, seorang ahli hukum tetap saja menjadi lawyer meskipun mereka sudah menjadi anggota DPR. Mungkin ada komitmen dari mereka akan berhenti dari profesi semula selama menjadi anggota DPR atau pimpinan pemerintahan, tapi setelah selesai mereka dapat kembali ke profesi semula. Tapi, seorang dosen, tidak dapat lagi menjadi dosen, mereka harus keluar begitu mereka menjadi anggota parpol. Beberapa teman saya yang potensial sebagai dosen, terpaksa keluar karena memilih jalur politik. Sungguh kebijakan yang kurang bijak dan kurang adil.

Sebelumnya, dimasa orde baru banyak dosen, seperti Amin Rais, dan lainnya boleh menjadi anggota DPR sambil mengajar. Mungkin, larangan ini bermaksud memisahkan “golkar” dari PNS yang pada masa itu otomatis harus menjadi anggota golkar. Tapi sudahkah terpikir oleh kita bahwa kita kehilangan satu generasi dalam membuat lapisan lapisan tokoh dari pemikir di Perguruan Tinggi yang akan mempimpin dan membangun negeri ini di seluruh Nusantara.

Perkuliahan baru

Hari Kamis dan Jumat (21 dan 22 Agustus 2008), ada rapat di Jurusan Teknik Sipil dan Program study Manajemen Infrastruktur Pascasarjana. Senang sekali saya ikut rapat sekali ini, rasanya sudah lama sekali tidak ketemu teman teman dan ingin bersilaturahmi dengan bapak ibu dosen yang lain.

Dalam pembagian mata kuliah yang akan diajarkan, ada sedikit perubahan karena adanya dosen senior yang pensiun. Juga aktifnya kembali dosen yang tadinya pergi tugas belajar. Tapi mahasiswa tidak perlu khawatir karena “rolling” pertukaran ini juga sudah dilakukan sebelumnya ketika dosen dosen tersebut pergi tugas belajar.

Bagi mahasiswa, sebaiknya jangan mengambil jarak dengan dosen, kalau ada yang akan dikomunikasikan jangan disimpan dalam hati, segera dibicarakan, kalau “malu” atau “segan” dapat melalui email, atau blog dosennya. Periode perkuliahan sangat singkat (4 tahun), kalau ada permasalahan disimpan dua semester saja, akan berdampak sangat besar bagi seluruh masa perkuliahan mahasiswa. Jadi, mahasiswa harus aktif, semangat dan selalu optimis.

Ingatlah, masalah itu tidak ada. Masalah ada hanya untuk diselesaikan, bukan untuk mengganggu jalannya kehidupan kita. Bagaimana menyelesaikan masalah? Tentu dengan mengahadapinya dan menguraikannya satu persatu. Kalau ada teman yang memberikan masalah dengan memfitnah, memusuhi atau menghasut ke hal hal yang akan merugikan kalian, jawab saja. “terimakasih, saya sudah cukup masalah dalam belajar ini, saya tidak mampu menerima masalah lain selain ini”. Mengapa? Karena masalah dalam belajar empat tahun itu banyak sekali, yang harus diselesaikan satu persatu dan tidak dapat dibungkus atau disimpan dilemari terus masalahnya menghilang.

Saya juga merasa lucu (sedih juga kadang kadang) bila mendengar mahasiswa menganggap saya “dosen killer” atau “rata kanan” karena pelit nilainya. Tapi mungkin mahasiswa dan para orang tua juga perlu mengetahui kesedihan para dosen melihat para mahasiswa yang tidak mau belajar kalau ujian, malas kuliah dan tidak mau mengerjakan tugas, tapi mau nilai lulus alias rata kiri (nilai A dan B). Mereka tidak mau rata kanan (nilai D dan E).

Menurut saya, nilai mahasiswa itu ditentukan oleh mahasiswanya sendiri, kalau dia belajar dan aktif kuliah, tentu akan berhasil dengan baik. Kalau merasa nilainya benar semua dan tetap tidak lulus, mahasiswa dapat minta “verification” atau penjelasan terhadap nilai tersebut. Jadi boleh protes, tentunya masih dalam masa verifikasi nilai tadi, yaitu dua minggu atau sebulan dari nilainya diumumkan. Karena nilai tersebut akan dimasukkan ke bank data di Pusat Komputer. Nah, mahasiswa yang tidak pernah belajar dan malas hadir tadi (yang jumlahnya kadang kadang lebih dari 10 persen mahasiswa) tentu tidak mau verifikasi nilai, karena sudah tahu kemampuannya memang segitu. Kelompok inilah yang menyebarkan “rasa takut” mereka dengan istilah “killer” tadi.

Saya yakin dan percaya, mahasiswa dapat memperbarui “paradigma” mereka tentang belajar di perguruan tinggi. Belajar bukan dalam kategori “Know-how” alias tahu dipermukaan saja, tapi mendalami ilmu yang dipelajari tersebut. Oya, ada hal lain dalam proses belajar, mahasiswa sekarang nampaknya lebih beruntung karena para dosen banyak yang menggunakan laptop dan LCD, sehingga mereka dapat melihat film dan presentasi yang bagus bagus. Keberuntungan ini dapat jadi bumerang bagi mahasiswa bila mereka merasa “sudah menangkap” semuanya hanya dengan menonton saja. Sampai dirumah semua memori tentang kuliah tadi hilang tak berbekas. Artinya, kuliah perlu membeli buku referensi atau meminjamnya di perpustakaan. Bagaimana caranya mendapatkan diktat atau materi dosen tersebut, kalau online, apakah dapat di download, atau bertanya langsung ke dosennya. Jadi jangan pulang kerumah sebelum mendapat nilai tambah (ilmu yang bermanfaat). Rugi sekali kalau pergi dan pulang dengan pengetahuan yang sama alias “blank” otaknya. Ketika kuliah, saya selalu menggunakan prinsip “hari hari harus ada nilai tambah”.

BELAJAR DARI KAMPANYE CALON GUBERNUR

Tanggal 18 Agustus 2008 yang lalu adalah momen penting bagi masyarakat Sumatera Selatan, karena pada hari itu semua dapat menyaksikan calon calon pemimpin mereka dalam mengekspresikan kemampuan dirinya dalam debat publik, dan belajar membaca kemampuan mereka dalam debat tersebut.

Saya tidak akan mengulas kampanye tentang siapa yang terbaik dari kandidat gubernur tersebut, melainkan pelajaran apa yang dapat dipetik oleh masyarakat dari momen ini. Kemudian, masyarakat juga dapat melihat apakah resikonya bila mereka nanti salah pilih bila melihat dari hasil pilkada lainnya di Indonesia.

Yang menarik dari presentsi para cagub adalah tidak terhindarkan mereka mengkritisi lawannya, baik dari pribadi, kebijakan, atau persepsi mereka yang berbeda. Saling kritik tak terhindarkan kalau tidak boleh disebutkan saling merendahkan. Hal ini mungkin saja para cagub bisa dianggap modern, karena pernah dilakukan juga oleh Clinton terhadap Obama.

Pembelajaran yang dapat dipetik oleh masyarakat adalah bahwa kita dapat menjadi lebih baik tanpa harus menjadi lebih tinggi, lebih hebat atau mengalahkan orang lain. Kualitas kandidat dapat ditunjukkan dengan cara menyajikan program yang memuaskan dan menjawab semua pertanyaan dengan jelas. Debat dapat dilakukan dengan elegan bila disampaikan dengan cara,”kita sudah dengar program kandidat lain, mungkin itu baik, tapi berbeda dengan program saya. Saya meyakini kalau program pemerintah provinsi Sumsel dilakukan dengan cara ini dan ini, maka akan punya kelebihan dari sisi ini…dan ini. Karena saya melakukan pengukuran dalam indikator sebelum dan sesudah program saya dilaksanakan nanti. Jadi kemungkinan gagal program saya ini nantinya akan dapat diminimalisir karena terpantau selalu dalam pelaksanaannya”.

Jadi yang sebaiknya ditunjukkan kelebihan dari cagub adalah sistemnya, bagaimana cara mereka mengatasi keadaan yang akan menghalangi program mereka dalam mencapai kesukseskan.

Sebagai contoh, beberapa kali cagub atau cawagub menyampaikan bahwa untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, wisata, pertambangan dan energi diperlukan infrastruktur. Sudah benar. Tapi akan lebih baik lagi kalau sistemnya yang dikembangkan. Pengembangan transportasi dalam suatu sistem belum terlihat disini, hanya dari segi fisiknya saja, jadi keterpaduan pelaksanaan antar sektor tidak terjalin secara terpadu. Berapakah produksi beras yang sumsel hasilkan dan kemana disebarkan. Bagaimana sistemnya untuk mengontrol distribusi logistik dari sumber ke pasar agar tidak ditimbun, hilang dijalan atau diselundupkan ke negara tetangga. Dimana terjadi pendataan sumber, kontrol distribusi dan tujuan? Inilah titik titik kritis yang perlu diperhatikan. Sebagai hasilnya cagub akan dengan mudah menunjukkan hal hal yang akan diperbaiki, bila melihat permasalahan dari mata rantai sistem. Demikian juga halnya dengan pengembangan berbagai sektor lainnya, bila cagub menyampaikan solusinya secara sistematis maka debat publik ini akan lebih mendidik, bukan lebih memanaskan suasana antar simpatisan yang fanatik dan terkadang ada yang militan. Mungkin kedua cagub tidak menyadari bahwa simpatisan mereka terkadang begitu dalam cinta dan fanatiknya sehingga ketika saya mendengar obrolan masyarakat yang tidak mengenal cagub mereka begitu marahnya satu sama lain, ketika mengemukakan perbedaan pendapat dan pilihan mereka.

Mungkin masyarakat banyak mempelajari kampanye ini untuk menyiapkan diri sehingga pada masa yang akan datang kita “dapat menuntut” kematangan program dalam kerangka sistem, tidak parsial dan sektoral.

MENGAPA KITA TIDAK MAU MAJU?

Apakah dunia kita serba berbeda dengan Negara maju?

Mengapa kita tidak bisa membuat sistem dan hidup dalam sistem agar Negara kita maju?

Mengapa banyak masyarakat kita tidak mau diajak melihat sesuatu yang lebih baik? Mengapa masyarakat kita demikian egois mementingkan keperluan dan kekuasaan sesaat?

 

Dimana letak kekuasaan pemerintah?

Apakah kebanyakan mereka tidak mampu mengatur?

Ataukah kebanyakan mereka tidak mau kerja keras mengatur dan lebih baik membiarkan orang dalam kesalahan supaya nanti bila dia ada kesalahan masyarakat tidak peduli.

Mengapa kebanyakan aparat, pejabat tidak dididik atau tidak tahu bagaimana untuk menjadi produktif?

Mengapa terjadi di kantor pusat pegawai datang setiap hari tapi hanya bisa main tennis meja atau duduk duduk ngobrol tidak mengerjakan sesuatu yang produktif.

Mengapa tidak ada kontrol manajemen dimana mana terhadap pegawai negeri sipil.

Mengapa pemerintah pusat maupun daerah tidak konsentrasi kepada penciptaan lapangan kerja?

Mengapa sebagian pejabat hanya memikirkan kebijakan yang membawa keuntungan untuk kelompok/partai mereka, supaya pada  pemilu berikutnya mereka dapat menang?

Mengapa banyak orang penting dapat dikorupsi informasi oleh ajudannya? Bila orang mau membantu orang penting tadi dengan tulus tidak diberi kesempatan, tapi bila ada yang mau kompromi dan menjilat ajudan tersebut maka orang tersebut mendapat kesempatan lebih dulu.

Mengapa banyak pemimpin dan pejabat tidak mau mengobrak obrik system protokoler yang sering termanipulasi oleh korupsi informasi, kolusi dan nepotisme ini?

Mengapa banyak pemimpin tidak mau turun langsung kelapangan dan menganalisa sendiri masalah yang dia lihat?

Malas! Mengapa mereka malas, padahal mereka digaji besar untuk itu, dan mereka kampanye untuk terjun langsung ke lapangan, untuk mendahulukan pemberdayaan masyarakat.

Mengapa politik uang ada dimana mana? Mau jadi bupati, walikota atau gubernur perlu banyak uang.

Mengapa ada DPRD menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk mendapatkan uang:

-Membuat peraturan daerah yang sudah tugasnya malah minta uang kepada eksekutif

-Membuat peraturan daerah bersama pemerintah malah meminta “studi banding” alias jalan jalan gratis dengan fasilitas hotel dan oleh oleh.

-Tidak pernah berjuang membuat peraturan daerah sendiri untuk meningkatkan kemajuan kota. Dinegara lain orang membuat ratusan peraturan yang menjadi kewajibannya di kita malah mempersulit pembuatan perda dengan ketidak tahuan akan ilmunya.

-Tidak mau merekrut ahli dalam pembuatan peraturan agar efektif, malah memakai kesempatan studi banding belajar ketempat lain yang tidak digunakan untuk benar benar belajar.

-Menjadikan ajang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Pemerintah sebagai peluang mencari kesalahan pemerintah yang nantinya akan “lolos” dengan aman dengan berbagai pelicin.

-Memanggil BUMN atau perusahaan swasta yang “bersalah” dan mengadili mereka dengan UUD, Ujung Ujungnya Duit.

-Bagaimana jadinya bila oknum DPRD main mata dengan ‘rakyat’ yang mau dibayar untuk demo ke perusahaan?  Bukankah ini suatu kesempatan peluang duit lagi?

-Membuat setiap pemilihan walikota, bupati dan gubernur menjadi kesempatan panen sekali dalam lima tahun.

-Mengapa oknum DPRD pada saat penetapan mata anggaran setiap tahun, main mata dengan pemerintah membuat gaji mereka naik secara berlebihan, belum bonus, mobil dan sebagainya?

-Mengapa oknum DPRD tidak malu menjajah bangsanya sendiri dan dengan ketidak mengertian mereka atau dengan kenaifan mereka, maka Negara kita bisa semakin hancur.

-Mengapa tidak terpikirkan oleh mereka bahwa mereka digaji untuk bekerja, bukan untuk memeras dan mencari peluang uang lagi.

-Apakah pekerjaan mereka sehari hari yang produktif? Dapatkan mereka dikoreksi?

 

Mengapa hanya pengemis saja yang produktif menambang uang dipersimpangan, dan menjadikan pekerjaan mengemis sebagai sesuatu pekerjaan tetap yang halal?

Mengapa LSM yang mendapatkan proyek untuk membina gembel dan pengemis hanya dapat membuat rumah singgah dan tidak membuat paradigma mereka berubah.

Mengapa sebagian LSM tidak tahu bila dana block grant dari luar negeri untuk membina masyarakat itu tidak dimanfaatkan dengan baik, hanya akan membuat kita jadi tambah bodoh, memanipulasi laporan seolah oleh program terlaksana, tapi ternyata tidak.

Mengapa sebagian LSM tidak tahu dengan investasi pemberian asing tersebut, orang asing telah mempunyai ribuan jaringan di Negara kita, dan bila terjadi referendum atau strategi apa saja dari luar untuk memecah belah Negara kita, kehilangan bagian dari negara kita itu mungkin saja terjadi.

Kemanakah harga diri dan keanggunan bangsa kita.

 

Dimanakah peran ahli agama atau ulama?

Apakah mereka tidak tahu sudah sebobrok ini mental masyarakat yang harus dibinanya?

Apakah mereka masih bisa tenang tenang ibadah, ceramah sesuai pesanan?

Dapatkah para pemimpin agama tidur nyenyak melihat kekacauan mental bangsa kita?

Haruskah mereka takut mengatakan bahwa tindakan DPRD, pemerintah, masyarakat yang salah itu adalah salah!

Mengapa di Jepang dan Negara Negara Barat yang sebagian masyarakatnya tidak percaya lagi kepada Tuhan, justru masih kuat memegang nilai nilai kebenaran?

Mengapa di Negara yang halaman gerejanya dijadikan tempat kencing orang mabuk, karena dekat bar, justru mematuhi hukum dan aturan pemerintah selagi mereka tidak mabuk.

Apakah bangsa kita lagi mabuk padahal tidak minum? Sehingga tidak tahu lagi mana yang benar dan salah?

Apakah yang bertanya terus ini sedang hidup di alam lain? Ataukah kita sedang menuju kealam kehancuran?