<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Web Blog Dr.Erika Buchari &#187; pemberdayaan masyarakat</title>
	<atom:link href="http://www.erikabuchari.com/category/pemberdayaan-masyarakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.erikabuchari.com</link>
	<description>Tempat menulis dan Posting mata kuliah</description>
	<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 01:04:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Pahlawan Devisa</title>
		<link>http://www.erikabuchari.com/2009/02/08/pahlawan-devisa/</link>
		<comments>http://www.erikabuchari.com/2009/02/08/pahlawan-devisa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 23:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erika buchari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pemberdayaan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.erikabuchari.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin menuliskan tentang pengalaman saya diawal Desember yang lalu, ketika bertemu dan berbicara dengan Tenaga Kerja Wanita Indonesia. Berbagai pertanyaan yang tidak saya tanyakan kepada mereka, cukup saya observasi saja&#8230;apakah mereka sudah nyaman dan bahagia&#8230;apakah mereka menikmati hidup senang?

Hari itu aku merenung? Mengapa demikian banyak peringatan, pencanangan dan perhatian diberikan kepada wanita, kaum ibu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin menuliskan tentang pengalaman saya diawal Desember yang lalu, ketika bertemu dan berbicara dengan Tenaga Kerja Wanita Indonesia. Berbagai pertanyaan yang tidak saya tanyakan kepada mereka, cukup saya observasi saja&#8230;apakah mereka sudah nyaman dan bahagia&#8230;apakah mereka menikmati hidup senang?</p>
<div class="storycontent">
<p>Hari itu aku merenung? Mengapa demikian banyak peringatan, pencanangan dan perhatian diberikan kepada wanita, kaum ibu? Apakah karena memang semua perhatian kepada kaum ibu? Ataukah dengan membuat peringatan hari ibu kemudian orang orang berpikir, “aku sudah memikirkan kaum ibu”.</p>
<p>Ironi memang. Melihat apa yang terjadi sesungguhnya dengan kaum ibu Indonesia. Saya teringat pengalaman saya yang paling berkesan ketika berkunjung ke Hong Kong sebagai pembicara pada sebuah Konferensi Transportasi tingkat dunia. Kunjungan saya ke Hong Kong kali ini benar benar membuahkan hasil perenungan yang luar biasa pada diri saya.</p>
<p>Konferensi diadakan hari Sabtu, Minggu dan Senin. Hari Minggu merupakan kunjungan teknis ke Lapangan, atau bisa ditukar dengan shopping kalau saya mau. Namun saya menukar acara shopping dan kunjungan teknis ke laboratorium jalan tersebut dengan acara yang luar biasa bagi saya, yaitu: melebur dengan rombongan Tenaga Kerja Wanita di lapangan rumput Viktoria, tempat biasanya para TKW ngumpul pada hari sabtu.</p>
<p>Pada hari Sabtu dan Minggu para pahlawan devisa ini berkumpul di Victoria Park, bawa makanan menggelar tikar plastik, berkumpul dalam kelompoknya masing masing. Antara kelompok satu dengan lainnya tidak saling peduli alias cuek. Yang penting mereka menyatu dengan kelompoknya masing masing.</p>
<p>Mula perkenalan saya dengan salah satu dari mereka, sebut saja Ny. L, adalah ketika saya makan di restoran/warung Malang Indonesia didekat KJRI. Saya menginap di penginapan KJRI, selain murah, juga disitulah penginapan yang tersedia dekat ke tempat Konferensi. Hotel disekitar sana sudah penuh karena panitia menyediakan pendaftaran online untuk hotel terbatas sampai pertengahan Oktober 2008.</p>
<p>Singkat cerita obrolan saya dengan Ny. L tersebut telah membuat saya trenyuh. Dia single parent, ibunya baru meninggal, anaknya diasuh oleh ayah tirinya. Dia sudah 8 tahun bekerja di HK. Dia juga menyekolahkan 2 orang adiknya. Orangnya sederhana, tidak hura hura seperti yang lainnya (harajuku style), dan baik. Hal ini lah yang membuat aku simpatik dan bersahabat dengan dia. Saat itu aku demam, batuk, dia menawari aku untuk menemui temannya dilapangan. Aku tertarik, seperti apa gerangan mereka? Apakah cuek seperti yang kutemui dilapangan. Ternyata kelompok Ny. L ini adalah orang yang ramah ramah.</p>
<p>Saya memotret ke sekeliling lapangan dan orang orang yang kami temui dijalan menuju lapangan rumput Victoria. Mendengar keluh kesah mereka, mendengar mereka bercanda melepas lelah. Memang mereka lebih beruntung dari TKW di negera Malaysia misalnya. Tapi apakah benar begitu? Ternyata, mereka penuh beban pikiran, karena sebagai penopang keluarga di Indonesia. Tapi coba kita lihat sebagian lagi mereka total bersenang senang menghamburkan uang, dan hidup sebagai pencinta sesama jenis (lesbian). Saya harus menyensor foto saya yang melihat mereka bercumbu ditempat terbuka. Selain itu, adalagi kelompok yang religius, merayakan pertemuan mereka dengan ceramah pengajian, dipinggir lapangan.</p>
<p>Lalu saya bicara sama mereka, coba lihat sekeliling kita banyak sekali bangsa kita disini. Ada lebih kurang 120 000 TKW tercatat di Hong Kong. Mungkin ada puluhan ribu TKW di lapangan pada hari itu, dan ada ribuan lagi lesehan di emper toko, dan pinggir taman Victoria. Tidakkah kalian merasa banyak teman dan punya kekuatan yang besar disini. Orang mau menjadi calon legislatif saja, susahnya bukan main mengumpulkan tanda tangan sebegitu banyak. Mengapa kalian tidak menyatu, mengapa berkelompok kelompok begini. Mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan. Pikiran saya penuh, dada saya sesak, tiba tiba dingin menyergapku, dan rasa sakit memaksaku pulang. Aku tahu, obatnya tidur dan menumpahkan apa yang ada di dalam pikiran ku sesegera mungkin.</p>
<p>Setelah, badan saya tak kuat menahan cuaca dalam keadaan demam dan batuk, saya pamit pulang. Ny. L meminta alamat saya. Karena saya tidak punya pena, maka saya berikan kartu alamat saya. Dia menjerit kagum melihat kartu nama itu. Tapi saya yakinkan bahwa kita sama sama wanita, sama sama berjuang untuk negara dan bangsa, jadi tidak ada bedanya. Allah yang mempertemukan kami dalam masa perjuangan ini. Dia mencoba maklum, tapi nampaknya kurang memahami apa yang kumaksud.</p>
<p>Sesampai di depan KJRI, ternyata penjagaan polisi diperketat, bahkan ada polisi yang menjaga dan meneropong dari atap gedung sebelahnya. Setelah di dalam KJRI baru diketahui kalau akan ada demo TKW. Demo dimulai jam 13.00 selesainya tidak jelas, karena saya sudah terlelap tidur. Isi demo adalah tuntutan memperjuangkan kaum TKW, cabut UU No 39 (saya belum tahu tentang apa) dan minta potongan gaji mereka selama 10 bln cukup dipotong 3 bulan saja. Penggeraknya adalah orang dari Jkt. Peserta demo sejumlah kurang lebih 30 orang dari 120 000 TKW yang ada. Mereka hanya membeo apa yang diteriakkan oleh koordinator demo dari Jkt itu dan memukul kentongan bila suatu tuntutan selesai diteriakkan.</p>
<p>Renungan saya:</p>
<p>1. Kegembiraan TKW adalah kegembiraan yang semu hanya karena menikmati fasilitas, mendapatkan uang yang diperlukan dan merasa tidak ada kekurangan. Tapi sesungguhnya pikiran dan hati mereka adalah untuk keluarga di Indonesia yang selalu mereka khawatirkan.</p>
<p>2. Banyak yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas sesama jenis ataupun pacaran dengan orang Asia selatan seperti India, Nepal dsb, lalu ditinggal hamil oleh mereka.</p>
<p>3. Para pahlawan devisa ini, mengalami kesulitan adaptasi budaya yang luar biasa, dan hampir tidak ada bimbingannya. Persatuan TKW atas inisiatip mereka nyaris tidak terpikirkan, yang ada pikiran tentang diri sendiri dan keluarga di Indonesia. Sebagian besar malah hanya berbahasa Jawa ketika berkomunikasi dengan saya, padahal sudah saya jelaskan kalau saya bukan orang Jawa.</p>
<p>4. Beda dengan mahasiswa indonesia di luar negeri. Perut mereka sudah kenyang, sehingga sudah mampu untuk memikirkan bangsa, dan memformulasikan suatu langkah terbaik untuk kemajuan bangsa. Mereka pun bersatu dalam wadah PPI. Dan cikal bakal pemimpin negara Indonesia adalah mereka yang dulunya pernah sekolah di Belanda. Sedangkan TKW kita ini, mereka menyumbang karena “terpaksa” dipotong gajinya.</p>
<p>Kapankah Indonesia berhenti mengirim TKW dan melindungi para wanita di tanah air yang subur ini? Bisa terjawab pertanyaan ini, kalau negara kita sudah mampu menyediakan lapangan kerja. Oleh karenanya, para pemimpin bertekadlah untuk mampu melindungi kaum wanita&#8230;karena dari kaum wanita akan dilahirkan wanita wanita lagi yang akan menjadi ibu dari bangsa yang cerdas.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.erikabuchari.com/2009/02/08/pahlawan-devisa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TREN KEPEMIMPINAN DAN CALON LEGISLATIF SEKARANG</title>
		<link>http://www.erikabuchari.com/2008/08/25/tren-kepemimpinan-dan-calon-legislatif-sekarang/</link>
		<comments>http://www.erikabuchari.com/2008/08/25/tren-kepemimpinan-dan-calon-legislatif-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 05:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erika buchari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pemberdayaan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.erikabuchari.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[
Suatu hari di parkiran Palembang Trade Centre beberapa minggu yang lalu, saya berjumpa dengan “kenalan lama” seorang tokoh yang tidak perlu disebutkan namanya. Intinya sang tokoh mendorong saya untuk menjadi caleg. “Sekarang sangat dibutuhkan caleg perempuan, belum memenuhi quota 30%” katanya.
Para pembaca yang budiman, yang ingin saya bahas adalah bukannya tentang keinginan saya untuk jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Suatu hari di parkiran Palembang Trade Centre beberapa minggu yang lalu, saya berjumpa dengan “kenalan lama” seorang tokoh yang tidak perlu disebutkan namanya. Intinya sang tokoh mendorong saya untuk menjadi caleg. “Sekarang sangat dibutuhkan caleg perempuan, belum memenuhi quota 30%” katanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Para pembaca yang budiman, yang ingin saya bahas adalah bukannya tentang keinginan saya untuk jadi caleg DPR atau tidak, dan tentang pantaskah saya jadi caleg DPR. Saya lebih senang membahasnya dari kerangka sistem. Bagaimana kita membangun negara dan bangsa kita ini secara sistematis dan tidak terjebak pada trend politis dan kehendak kerumunan yang ada (banyak orang, meminjam istilah Eep Saifullah, 2008).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Sekarang ini ada fenomena baru yang berkembang didunia politik kita. Sementara kita menantikan para tokoh yang “terpendam” oleh runtuhnya kerangka sistem, kita menyaksikan ramainya partai partai yang merekrut artis untuk “menang” dalam pilkada. Partai partai tersebut sudah gagal dalam memunculkan orang yang mampu menjadi pembuat sistem, orang orang spesial yang terdidik dan berpengalaman. Partai partai lebih senang merekrut para artis, karena para artis tersebut sudah dikenal oleh masyarakat. Tak perlu lagi partai membantu memperkenalkan seorang tokoh yang baru akan dimunculkan kepada masyarakat. Partai sudah gagal mendidik masyarakat untuk tahu hak hak masyarakat dalam menuntut perbaikan suatu keadaan di negeri kita, yaitu hak untuk mendapatkan sistem tata negara yang baik, menolak sistem yang salah seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan hak untuk mempertahankan hal hal yang baik yang pernah masyarakat miliki sebelumnya<span> </span>dengan memperhatikan <em>sustainable development</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Ada tiga hal yang akan saya jawab bila seseorang mengajak saya jadi celeg DPR, yaitu pertama saya harus tetap boleh menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri, kedua saya tidak perlu kampanye sendiri (partailah yang harus mengkampanyekan saya), ketiga saya tidak mau keluar uang untuk proses menjadikan diri saya seorang calon legislatif. Tentu saja semua orang yang mendengarkan jawaban saya tadi akan tertawa dan menganggap saya bercanda. Padahal saya serius sekali. Saya hanya menuntut hak saya untuk dapat membela negara. Saya tahu negara ini perlu sistem. Peraturan peraturan yang “digodog” di DPR kebanyakan tidak kuat naskah akademiknya. Sehingga untuk menggolkan sebuah produk Undang undang atau Peraturan Pemerintah sering harus membiayai study banding, dan biaya suap yang akhir akhir ini banyak terbukti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Seorang artis boleh saja tetap menjadi artis, seorang pengusaha tetap saja menjalankan usahanya dari balik layar, seorang ahli hukum tetap saja menjadi <em>lawyer</em> meskipun mereka sudah menjadi anggota DPR. Mungkin ada komitmen dari mereka akan berhenti dari profesi semula selama menjadi anggota DPR atau pimpinan pemerintahan, tapi setelah selesai mereka dapat kembali ke profesi semula. Tapi, seorang dosen, tidak dapat lagi menjadi dosen, mereka harus keluar begitu mereka menjadi anggota parpol. Beberapa teman saya yang potensial sebagai dosen, terpaksa keluar karena memilih jalur politik. Sungguh kebijakan yang kurang bijak dan kurang adil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Sebelumnya, dimasa orde baru banyak dosen, seperti Amin Rais, dan lainnya boleh menjadi anggota DPR sambil mengajar. Mungkin, larangan ini bermaksud memisahkan “golkar” dari PNS yang pada masa itu otomatis harus menjadi anggota golkar. Tapi sudahkah terpikir oleh kita bahwa kita kehilangan satu generasi dalam membuat lapisan lapisan tokoh dari pemikir di Perguruan Tinggi yang akan mempimpin dan membangun negeri ini di seluruh Nusantara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.erikabuchari.com/2008/08/25/tren-kepemimpinan-dan-calon-legislatif-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BELAJAR DARI KAMPANYE CALON GUBERNUR</title>
		<link>http://www.erikabuchari.com/2008/08/21/belajar-dari-kampanye-calon-gubernur/</link>
		<comments>http://www.erikabuchari.com/2008/08/21/belajar-dari-kampanye-calon-gubernur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 14:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>erika buchari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pemberdayaan masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.erikabuchari.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 18 Agustus 2008 yang lalu adalah momen penting bagi masyarakat Sumatera Selatan, karena pada hari itu semua dapat menyaksikan calon calon pemimpin mereka dalam mengekspresikan kemampuan dirinya dalam debat publik, dan belajar membaca kemampuan mereka dalam debat tersebut.
Saya tidak akan mengulas kampanye tentang siapa yang terbaik dari kandidat gubernur tersebut, melainkan pelajaran apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Tanggal 18 Agustus 2008 yang lalu adalah momen penting bagi masyarakat Sumatera Selatan, karena pada hari itu semua dapat menyaksikan calon calon pemimpin mereka dalam mengekspresikan kemampuan dirinya dalam debat publik, dan belajar membaca kemampuan mereka dalam debat tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Saya tidak akan mengulas kampanye tentang siapa yang terbaik dari kandidat gubernur tersebut, melainkan pelajaran apa yang dapat dipetik oleh masyarakat dari momen ini. Kemudian, masyarakat juga dapat melihat apakah resikonya bila mereka nanti salah pilih bila melihat dari hasil pilkada lainnya di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Yang menarik dari presentsi para cagub adalah tidak terhindarkan mereka mengkritisi lawannya, baik dari pribadi, kebijakan, atau persepsi mereka yang berbeda. Saling kritik tak terhindarkan kalau tidak boleh disebutkan saling merendahkan. Hal ini mungkin saja para cagub bisa dianggap modern, karena pernah dilakukan juga oleh Clinton terhadap Obama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Pembelajaran yang dapat dipetik oleh masyarakat adalah bahwa kita dapat menjadi lebih baik tanpa harus menjadi lebih tinggi, lebih hebat atau mengalahkan orang lain. Kualitas kandidat dapat ditunjukkan dengan cara menyajikan program yang memuaskan dan menjawab semua pertanyaan dengan jelas. Debat dapat dilakukan dengan elegan bila disampaikan dengan cara,”kita sudah dengar program kandidat lain, mungkin itu baik, tapi berbeda dengan program saya. Saya meyakini kalau program pemerintah provinsi Sumsel dilakukan dengan cara ini dan ini, maka akan punya kelebihan dari sisi ini&#8230;dan ini. Karena saya melakukan pengukuran dalam indikator sebelum dan sesudah program saya dilaksanakan nanti. Jadi kemungkinan gagal program saya ini nantinya akan dapat diminimalisir karena terpantau selalu dalam pelaksanaannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Jadi yang sebaiknya ditunjukkan kelebihan dari cagub adalah sistemnya, bagaimana cara mereka mengatasi keadaan yang akan menghalangi program mereka dalam mencapai kesukseskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Sebagai contoh, beberapa kali cagub atau cawagub menyampaikan bahwa untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, wisata, pertambangan dan energi diperlukan infrastruktur. Sudah benar. Tapi akan lebih baik lagi kalau sistemnya yang dikembangkan. Pengembangan transportasi dalam suatu sistem belum terlihat disini, hanya dari segi fisiknya saja, jadi keterpaduan pelaksanaan antar sektor tidak terjalin secara terpadu. Berapakah produksi beras yang sumsel hasilkan dan kemana disebarkan. Bagaimana sistemnya untuk mengontrol distribusi logistik dari sumber ke pasar agar tidak ditimbun, hilang dijalan atau diselundupkan ke negara tetangga. Dimana terjadi pendataan sumber, kontrol distribusi dan tujuan? Inilah titik titik kritis yang perlu diperhatikan. Sebagai hasilnya cagub akan dengan mudah menunjukkan hal hal yang akan diperbaiki, bila melihat permasalahan dari mata rantai sistem. Demikian juga halnya dengan pengembangan berbagai sektor lainnya, bila cagub menyampaikan solusinya secara sistematis maka debat publik ini akan lebih mendidik, bukan lebih memanaskan suasana antar simpatisan yang fanatik dan terkadang ada yang militan. Mungkin kedua cagub tidak menyadari bahwa simpatisan mereka terkadang begitu dalam cinta dan fanatiknya sehingga ketika saya mendengar obrolan masyarakat yang tidak mengenal cagub mereka begitu marahnya satu sama lain, ketika mengemukakan perbedaan pendapat dan pilihan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span lang="IN">Mungkin masyarakat banyak mempelajari kampanye ini untuk menyiapkan diri sehingga pada masa yang akan datang kita “dapat menuntut” kematangan program dalam kerangka sistem, tidak parsial dan sektoral.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.erikabuchari.com/2008/08/21/belajar-dari-kampanye-calon-gubernur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
