Hari itu aku merenung? Mengapa demikian banyak peringatan, pencanangan dan perhatian diberikan kepada wanita, kaum ibu? Apakah karena memang semua perhatian kepada kaum ibu? Ataukah dengan membuat peringatan hari ibu kemudian orang orang berpikir, “aku sudah memikirkan kaum ibu”.
Ironi memang. Melihat apa yang terjadi sesungguhnya dengan kaum ibu Indonesia. Saya teringat pengalaman saya yang paling berkesan ketika berkunjung ke Hong Kong sebagai pembicara pada sebuah Konferensi Transportasi tingkat dunia. Kunjungan saya ke Hong Kong kali ini benar benar membuahkan hasil perenungan yang luar biasa pada diri saya.
Konferensi diadakan hari Sabtu, Minggu dan Senin. Hari Minggu merupakan kunjungan teknis ke Lapangan, atau bisa ditukar dengan shopping kalau saya mau. Namun saya menukar acara shopping dan kunjungan teknis ke laboratorium jalan tersebut dengan acara yang luar biasa bagi saya, yaitu: melebur dengan rombongan Tenaga Kerja Wanita di lapangan rumput Viktoria, tempat biasanya para TKW ngumpul pada hari sabtu.
Pada hari Sabtu dan Minggu para pahlawan devisa ini berkumpul di Victoria Park, bawa makanan menggelar tikar plastik, berkumpul dalam kelompoknya masing masing. Antara kelompok satu dengan lainnya tidak saling peduli alias cuek. Yang penting mereka menyatu dengan kelompoknya masing masing.
Mula perkenalan saya dengan salah satu dari mereka, sebut saja Ny. L, adalah ketika saya makan di restoran/warung Malang Indonesia didekat KJRI. Saya menginap di penginapan KJRI, selain murah, juga disitulah penginapan yang tersedia dekat ke tempat Konferensi. Hotel disekitar sana sudah penuh karena panitia menyediakan pendaftaran online untuk hotel terbatas sampai pertengahan Oktober 2008.
Singkat cerita obrolan saya dengan Ny. L tersebut telah membuat saya trenyuh. Dia single parent, ibunya baru meninggal, anaknya diasuh oleh ayah tirinya. Dia sudah 8 tahun bekerja di HK. Dia juga menyekolahkan 2 orang adiknya. Orangnya sederhana, tidak hura hura seperti yang lainnya (harajuku style), dan baik. Hal ini lah yang membuat aku simpatik dan bersahabat dengan dia. Saat itu aku demam, batuk, dia menawari aku untuk menemui temannya dilapangan. Aku tertarik, seperti apa gerangan mereka? Apakah cuek seperti yang kutemui dilapangan. Ternyata kelompok Ny. L ini adalah orang yang ramah ramah.
Saya memotret ke sekeliling lapangan dan orang orang yang kami temui dijalan menuju lapangan rumput Victoria. Mendengar keluh kesah mereka, mendengar mereka bercanda melepas lelah. Memang mereka lebih beruntung dari TKW di negera Malaysia misalnya. Tapi apakah benar begitu? Ternyata, mereka penuh beban pikiran, karena sebagai penopang keluarga di Indonesia. Tapi coba kita lihat sebagian lagi mereka total bersenang senang menghamburkan uang, dan hidup sebagai pencinta sesama jenis (lesbian). Saya harus menyensor foto saya yang melihat mereka bercumbu ditempat terbuka. Selain itu, adalagi kelompok yang religius, merayakan pertemuan mereka dengan ceramah pengajian, dipinggir lapangan.
Lalu saya bicara sama mereka, coba lihat sekeliling kita banyak sekali bangsa kita disini. Ada lebih kurang 120 000 TKW tercatat di Hong Kong. Mungkin ada puluhan ribu TKW di lapangan pada hari itu, dan ada ribuan lagi lesehan di emper toko, dan pinggir taman Victoria. Tidakkah kalian merasa banyak teman dan punya kekuatan yang besar disini. Orang mau menjadi calon legislatif saja, susahnya bukan main mengumpulkan tanda tangan sebegitu banyak. Mengapa kalian tidak menyatu, mengapa berkelompok kelompok begini. Mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan. Pikiran saya penuh, dada saya sesak, tiba tiba dingin menyergapku, dan rasa sakit memaksaku pulang. Aku tahu, obatnya tidur dan menumpahkan apa yang ada di dalam pikiran ku sesegera mungkin.
Setelah, badan saya tak kuat menahan cuaca dalam keadaan demam dan batuk, saya pamit pulang. Ny. L meminta alamat saya. Karena saya tidak punya pena, maka saya berikan kartu alamat saya. Dia menjerit kagum melihat kartu nama itu. Tapi saya yakinkan bahwa kita sama sama wanita, sama sama berjuang untuk negara dan bangsa, jadi tidak ada bedanya. Allah yang mempertemukan kami dalam masa perjuangan ini. Dia mencoba maklum, tapi nampaknya kurang memahami apa yang kumaksud.
Sesampai di depan KJRI, ternyata penjagaan polisi diperketat, bahkan ada polisi yang menjaga dan meneropong dari atap gedung sebelahnya. Setelah di dalam KJRI baru diketahui kalau akan ada demo TKW. Demo dimulai jam 13.00 selesainya tidak jelas, karena saya sudah terlelap tidur. Isi demo adalah tuntutan memperjuangkan kaum TKW, cabut UU No 39 (saya belum tahu tentang apa) dan minta potongan gaji mereka selama 10 bln cukup dipotong 3 bulan saja. Penggeraknya adalah orang dari Jkt. Peserta demo sejumlah kurang lebih 30 orang dari 120 000 TKW yang ada. Mereka hanya membeo apa yang diteriakkan oleh koordinator demo dari Jkt itu dan memukul kentongan bila suatu tuntutan selesai diteriakkan.
Renungan saya:
1. Kegembiraan TKW adalah kegembiraan yang semu hanya karena menikmati fasilitas, mendapatkan uang yang diperlukan dan merasa tidak ada kekurangan. Tapi sesungguhnya pikiran dan hati mereka adalah untuk keluarga di Indonesia yang selalu mereka khawatirkan.
2. Banyak yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas sesama jenis ataupun pacaran dengan orang Asia selatan seperti India, Nepal dsb, lalu ditinggal hamil oleh mereka.
3. Para pahlawan devisa ini, mengalami kesulitan adaptasi budaya yang luar biasa, dan hampir tidak ada bimbingannya. Persatuan TKW atas inisiatip mereka nyaris tidak terpikirkan, yang ada pikiran tentang diri sendiri dan keluarga di Indonesia. Sebagian besar malah hanya berbahasa Jawa ketika berkomunikasi dengan saya, padahal sudah saya jelaskan kalau saya bukan orang Jawa.
4. Beda dengan mahasiswa indonesia di luar negeri. Perut mereka sudah kenyang, sehingga sudah mampu untuk memikirkan bangsa, dan memformulasikan suatu langkah terbaik untuk kemajuan bangsa. Mereka pun bersatu dalam wadah PPI. Dan cikal bakal pemimpin negara Indonesia adalah mereka yang dulunya pernah sekolah di Belanda. Sedangkan TKW kita ini, mereka menyumbang karena “terpaksa” dipotong gajinya.
Kapankah Indonesia berhenti mengirim TKW dan melindungi para wanita di tanah air yang subur ini? Bisa terjawab pertanyaan ini, kalau negara kita sudah mampu menyediakan lapangan kerja. Oleh karenanya, para pemimpin bertekadlah untuk mampu melindungi kaum wanita…karena dari kaum wanita akan dilahirkan wanita wanita lagi yang akan menjadi ibu dari bangsa yang cerdas.

