Kematian yang mengenaskan
Pertama melihat tayangan di tv one tentang demo mahasiswa dan warga yang membawa korban Ketua DPRD Medan, saya tertegun, kemudian marah, lalu nangis dan shock. Sampai sampai, saya membiarkan deadline tulisan paper saya berlalu hanya untuk menyempatkan menulis disini. Dada ini sesak, kalau tidak saya keluarkan kegundahan hati saya yang telah lama saya simpan ini,
Sebelumnya sudah marak demo yang anarkis dipertontonkan semua televisi. Melihat itu saya selalu bertanya, inikah watak bangsaku yang sesungguhnya? Watak yang liar dan bengis dan selalu ingin menunjukkan kekuatannya, seperti raja rimba?
Saya juga tercengang melihat sang penyambut demo tadi, apakah pihak legislatif atau eksekutif hanya ringan ringan saja menyambutnya, seperti tidak bertanggung jawab mencari titik temu perbedaan sampai tuntas.
Tapi…ketika melihat tayangan kematian Ketua DPRD, yang mengenaskan tersebut, saya seperti orang lain yang menyaksikannya, pasti menolak insiden itu dan merasa malu akan wajah bangsa kita yang biadab seperti itu.
Mana mungkin massa yang 7500 itu ditangani oleh polisi seratusan. Mana mungkin juga orang sudah anarkis tersebut tidak dilakukan penembakan peringatan keatas, dan kalau sudah diingatkan masih melanggar seharusnya ditembak kakinya, supaya mereka sadar untuk tidak membunuh orang lain.
Setidaknya itulah pikiran saya sebagai warga yang ingin dilindungi.
Saya tersadar, ternyata sejak tahun 1998, perstiwa reformasi itu, ada yang kehilangan dari hak hak kita yaitu hak sebagai warga untuk dilindungi. Kita dibiarkan melindungi diri sendiri dari kebiadaban saudara saudara kita sendiri, entah alasannya karena kesulitan ekonomi, karena kebekuan politik ataupun karena ketidak ampuhan hukum.
Kalau saya presiden, hari itu juga saya sudah terbang ke Medan. Menegur masyarakat yang berbuat biadab, dan memperingatkan polisi agar tidak terjadi lagi hal yang seperti ini.
Maaf, mengapa saya katakan biadab? Karena setelah orang yang sekarat karena sakit jantung itu dipukuli dari segala arah, setelah pingsan dan terkurung tak dapat keluar mencari penyelamatan diri, setelah matipun masih juga dihalangi dan dilempari pendemo tersebut. Bukankah itu kata yang tepat?
Saya pikir sebagai warga negara yang normal, mereka pendemo anarkis itu akan tertegun melihat korbannya “kelimpungan” dan mundur sedikit memberi rongga untuk dia bernafas. Tapi nampaknya kematian itu memang mungkin sudah target mereka, karena mungkin keinginan orang banyak tersebut dihalang halangi.
Digaris bawahi lagi, karena keinginan yang dihalangi, telah menyebabkan orang “kalap” lupa segala aturan untuk memperjuangkan keinginannya. Setidaknya inilah yang dipertontonkan televisi sejak Mei berdarah 1998 yang lalu.
Bangsa kita dalam kemerosotan moral yang luar biasa. Yang diatas foya foya korupsi, yang terdesak membunuh tanpa rasa berdosa, dan sisanya hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Kalau kita ke luar negeri, dua puluh tahun lalu saya masih dipuji sebagai warga Indonesia yang berperilaku sopan halus dan tinggi budi pekerti nya. Tapi sekarang, orang yang baru saya kenal ketika mendengar saya orang Indonesia, pasti meragukan bahwa saya orang baik baik, apalagi dengan penampilan muslimah yang berjilbab. Pertama yang terbayang oleh mereka gerakan orang anarkis, kemudian teroris, hal ini lah yang membuat mereka menjauhi dan takut kepada kita bangsa Indonesia. Belum lagi, di komuni gereja di Eropa ada beredar video orang kristen yang ditusuk sate oleh orang bersorban. Tentu tidak diperlihatkan dalam video itu kejadian orang Islam yang dibantai.
Hal inilah yang membuat bangsa kita makin terperosok dari segala penjuru. Kita sebagai bangsa sudah kehilangan segalanya, dignity, kemuliaan, martabat dan kesopan santunan. Kita juga kehilangan hak untuk dilindungi, untuk di beri udara yang bersih dari polusi dari macetnya kota, untuk diberi air yang bersih dan berkecukupan (tidak banjir), untuk didengarkan dan sebagainya.
Kematian memang sudah kontrak kita dengan Allah, akan tetapi perilaku manusia yang dapat membunuh orang lain dengan sengaja maupun tidak sengaja tidak dapat dibenarkan di muka bumi ini.
Hak Allah untuk mencabut nyawa orang lain.
Kematian yang mengenaskan.
Posted: February 8th, 2009 under Uncategorized.