In memoriam mama Hj. Halimah Tamin, 6 Oktober 2008
Bertahun tahun saya belajar hidup, banyak kali pula saya menasehati teman yang berduka karena kepergian orang yang dikasihinya ke alam baka, tapi baru kali ini saya harus mampu menasehati diri sendiri untuk ikhlas menerima kenyataan berpisah dengan mama.
Saya tulis kenangan untuk mama ini bukan untuk cengeng atau memanjakan diri sendiri. Tapi untuk lebih banyak mengenang pelajaran dan keteladanan yang diberikan beliau sepanjang hidupnya.
Diwaktu kecil beliau tak pernah kehabisan bahan untuk mendongeng sebelum tidur, yang setelah besar baru saya sadari hal itu telah membuat diri saya terpacu untuk menjadi tokoh dalam dongeng tersebut. Tokohnya adalah si Ani. Bermacam cerita berkaitan dengan kehidupan sehari hari dilakoni oleh si Ani tersebut. Si Ani yang pintar ini, yang pintar itu. Si Ani yang berguna bagi tetangga, bagi temannya. Si Ani yang sabar. Si Ani yang jujur dsb dsb….
Yang utama dikenalkan adalah disiplin dalam beragama. Habis sholat magrib menjelang Isya kita wajib mengaji. Sehingga ketika masih SD kita diwajibkan sudah khatam Al Quran. Mulai kelas 1 SD kita mulai belajar puasa. Masih ingat saya ketika kecil mengikuti ceramah Kiyai di Mesjid, padahal ketika itu saya belum mengerti benar apa isi ceramah tersebut. Yang saya ingat adalah beliau selalu membawa secerek air teh manis dan saya memegang segelas susu coklat untuk penceramah. Waktu itu saya masih SD. Ketika nuzul Quran sayapun ikut lomba baca Al Quran. Walaupun saya cuma juara harapan, tapi yang penting semangat kompetisi untuk berbuat yang terbaik itu sudah ditanamkan beliau sejak kami kecil.
Tahun 1974, TVRI di Palembang mulai siaran. Kamipun dapat menonton TV hitam putih pada saat itu. Tapi kami hanya boleh menonton kalau sudah mengaji dan membuat PR. Tentu saja hanya tersisa sedikit waktu untuk nonton tv karena pada masa itu tv tutup siaran jam 10 sampai jam 11 malam.
Beliau memacu kami untuk “pintar” dalam belajar maupun dalam kehidupan sehari hari. Sayapun dibiarkan main bebas dengan tetangga. Beliau selalu berbuat dan berhitung dengan tepat. Walaupun kami bukan anak orang kaya, dan mama hanya ibu rumah tangga biasa, tapi kami dijamin tidak kekurangan makanan, pakaian dan buku buku serta keperluan sekolah yang kami perlukan. Kami pun dapat bersekolah di sekolah yang berkualitas dengan bayaran yang tidak murah. Meskipun setiap tahun beliau selalu menghadap kepala sekolah untuk meminta diturunkan uang sekolah kami (entah bagaimana caranya, mungkin beliau membawa slip gaji papa, kami tidak tahu tepatnya bagaimana).
Yang paling memalukan waktu saya kecil adalah bahwa saya tidak pernah jajan karena tidak boleh jajan. Uang saku saya tabung dan belikan bahan baju, saya harus belajar menjahit dengan mama. Akhirnya saya betah dengan membawa bekal nasi dan minum dari rumah, dan betah menabung untuk praktek menjahit. Akhirnya ketika SMA kelas 1 saya sudah dapat memecah pola dan membuat bemacam macam model baju. Hal ini ternyata berguna ketika saya di Inggris, disana saya membeli mesin jahit dan menjahit baju saya sendiri. Ketika tamat SMA saya tidak muluk muluk, keinginan saya cuma ingin menjadi designer terkenal yang bersekolah ke London. Tapi apaboleh buat karena tidak ada sekolahnya di Palembang sayapun mendaftar di Teknik Sipil. Satu satunya pilihan saya waktu itu. Meskipun beliau tidak sekolah tinggi, tapi beliau ingin saya meneruskan pendidikan saya dan hingga nantinya saya menjadi professor. Supaya makin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari keberadaan kita, katanya.
Mama tidak pernah istirahat. Selain mengurus kami anaknya yang cuma dua orang perempuan semua ini, mama juga pintar menjahit dan memasak. Beliau juga pernah menyewakan pakaian pengantin dan membuatkan kue pengantin yang 3 tingkat itu. Keahliannya banyak sekali dibidang rumah tangga.
Tapi yang mencengangkan adalah kemampuan matematis dan berhitungnya. Mama selalu tepat dan cepat dalam menganalisis mengambil keputusan. Sifatnya yang antisipatif ini sangat berguna dan sekarang saya sadari perlu dicontoh dan ditiru. Ternyata kesempurnaan manajerial dapat juga dilatih dalam scope kecil yaitu rumah tangga. Pada waktu itu, seorang istri pegawai pertamina sangat sibuk dalam organisasinya dan beliau juga aktif ke Sungai Gerong. Dengan kata lain, kami juga sering ditinggal dan pulang dari sekolah tidak menemukan beliau dirumah. Tapi, kami tidak kehilangan karena semua sudah tersedia, terjadwal dan beberapa jam kemudian beliau sudah berada dirumah.
Yang perlu saya catat dengan tinta merah adalah beliau tidak pernah mengeluh capek, sakit, ngantuk atau malas dalam mengerjakan tugas tugas rumah atau tugas organisasi. Sementara saya kalau capek bekerja, buru buru istirahat dulu kemudian baru kerja lagi, sehingga waktu kerja jadi “molor” sampai malam sekali.
Kejujuran mama dalam keseharian sangat menonjol. Pada waktu di restoran bila beliau mau menggunakan tusuk gigi ketika kami makan di restoran, maka beliau memintanya terlebih dahulu. Ketika sudah meinggal kejujuran beliau ini dikenang dan jadi contoh bagi suster yang merawatnya dirumah. Beliau minta dibelikan sayur bayam dari tukang sayur yang lewat. Ketika terbawa cung kediro (sejenis tomat kecil) beliau menyuruhnya mengembalikan ke tukang sayur tsb.
Semua teman kami adalah anak bagi beliau, sehingga beliau dengan tulus ikhlas ikut begadang dan menyediakan makan malam kami, yang kadang kadang membawa puluhan teman. Sekali lagi, kami tidak jajan melainkan makan masakan beliau. Sehingga sampai saat ini mama dikenang teman teman akan masakan rendang kacang dan nasi gorengnya yang enak.
Ketika melepas dan menghadapi saat saat terakhir beliau ketika akan meninggalkan dunia ini, saya baru menyadari bahwa kebaikan itu adalah suatu investasi jangka panjang. Menanam kebaikan, amal dan ibadah harus sejak dini, serta harus konsisten bukannya musiman. Amal dan kajian beliau banyak sekali dan itu dilakukan terus menerus, secara konsisten. Konsisten, itu yang paling sulit kita pelajari dan kita atasi. Terutama iman kita sering naik turun, ibadah kita kadang banyak kadang minim dan pas pas an. Ternyata konsisten itu berasal pengusaan diri, pengalahan diri sendiri. Kita semua tahu kalau mengalahkan orang lain lebih mudah dari mengalahkan diri sendiri. Inilah hal yang paling sulit untuk dipelajari.
Selain itu, mama orangnya lemah lembut, suka senyum dan sepertinya tidak pernah marah. Kalau beliau marah sekali maka beliau akan bungkam saja dan kita rasanya “terhukum mati” dengan sikap mama yang seperti itu. Alangkah tegas kepemimpinannya. Saya ingat ketika saya pulang menjelang akhir hayat alm papa tahun 1988. Tiga bulan saya tetap di Jakarta tidak mau kembali ke Inggris, terhanyut menangis, putus semangat dan tidak mau meneruskan kuliah master saya yang tinggal ujian Thesis saja lagi. Tapi beliau tegas menyuruh saya kembali ke Inggris, sehingga saya tidak dapat tidak harus kembali meneruskan sekolah yang tertunda karena meninggalnya alm papa.
Demikian juga menjelang saya menyelesaikan studi, enam bulan (Jan – July 2008) saya harus menunggu koreksian dan persetujuan kapan harus ujian Thesis S3 saya di Belgia. Bulan April beliau sakit dan sejak itu semakin menurun kekuatan fisiknya. Tapi beliau tegas, marah dengan suara tegas melarang saya pulang. Target beliau saya harus selesai doctor nya. Meskipun tiap malam chatting (yang membanggakan beliau tidak gaptek dan bisa menjawab call saya melalui skype dengan menyentuh tombol dilaptop yang sudah distel), mama selalu seperti orang optimis dan tidak sakit. Demikian juga pagi hari selalu saya telp, mama selalu menjawab dengan semangat. Padahal saat itu beliau sedang kesakitan yang luar biasa. Saya tertipu. Begitulah kerasnya keinginan beliau supaya saya dapat fokus ke Ujian. Mama tahu betul kalau saya tahu bagaimana sakitnya mama, pasti saya pulang dan tidak akan peduli dengan ujian doktoral saya dan segala hal lainnya.
Begitulah, ketika saya pulang baru beliau dengan ikhlas dimasukkan ke Rumahsakit dan dirawat sampai sembuh dan kulit yang keriput mulai terisi kembali. Semua seperti menghibur dan menghapus rasa bersalah saya. Pada hari lebaran pertama, mama sudah tidak tahan lagi minta dirawat di RS. Akhir umurnya sudah dirasakan mama sehingga sebelum ke RS beliau sudah berpesan menyiapkan kain kafan dan kain panjang yang selama ini sudah disimpan dilemari.
Mama adalah sosok ibu yang sempurna, taat, disiplin, penuh kasih dan dedikasi serta penuh inspirasi. Sampai sekarang saya merasa beliau masih memelukku dengan hangat dan memberi semangat untuk berbakti kepada keluarga dan bangsa. Terimakasih Allah telah memberikan orang tua yang penuh keteladanan bagi kami anak anaknya. Semoga Allah mengampuni segala dosanya, dan memasukkan serta mempertemukan mama papa di syurga. Amin.
Recent Entries
- April 2012
- January 2012
- August 2009
- July 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008


Asslm.
sebelumnya saya turut berduka cita bu,,
semoga amal ibadah almrhum diterima disisi allah, dan ditempat kn keduanya disurga,, amien…….
hikmah yg saya ambil dr cerita diatas bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani kehidupan ini walau ada halangan. .
cerita diatas memberi saya motivasi untuk maju kedepan,,
ibu dalam cerita tersebut tentu sangat bangga mempunyai anak seperti ibu,,
^^
ikut berduka atas wafatnya Ibu tercinta , semoga Belau diterima disisi ALLAH. baru hari ini buka internet maklum gaptek. kemarin Truly bilang Erika ke Smg.