MENGAPA KITA TIDAK MAU MAJU?
Apakah dunia kita serba berbeda dengan Negara maju?
Mengapa kita tidak bisa membuat sistem dan hidup dalam sistem agar Negara kita maju?
Mengapa banyak masyarakat kita tidak mau diajak melihat sesuatu yang lebih baik? Mengapa masyarakat kita demikian egois mementingkan keperluan dan kekuasaan sesaat?
Dimana letak kekuasaan pemerintah?
Apakah kebanyakan mereka tidak mampu mengatur?
Ataukah kebanyakan mereka tidak mau kerja keras mengatur dan lebih baik membiarkan orang dalam kesalahan supaya nanti bila dia ada kesalahan masyarakat tidak peduli.
Mengapa kebanyakan aparat, pejabat tidak dididik atau tidak tahu bagaimana untuk menjadi produktif?
Mengapa terjadi di kantor pusat pegawai datang setiap hari tapi hanya bisa main tennis meja atau duduk duduk ngobrol tidak mengerjakan sesuatu yang produktif.
Mengapa tidak ada kontrol manajemen dimana mana terhadap pegawai negeri sipil.
Mengapa pemerintah pusat maupun daerah tidak konsentrasi kepada penciptaan lapangan kerja?
Mengapa sebagian pejabat hanya memikirkan kebijakan yang membawa keuntungan untuk kelompok/partai mereka, supaya pada pemilu berikutnya mereka dapat menang?
Mengapa banyak orang penting dapat dikorupsi informasi oleh ajudannya? Bila orang mau membantu orang penting tadi dengan tulus tidak diberi kesempatan, tapi bila ada yang mau kompromi dan menjilat ajudan tersebut maka orang tersebut mendapat kesempatan lebih dulu.
Mengapa banyak pemimpin dan pejabat tidak mau mengobrak obrik system protokoler yang sering termanipulasi oleh korupsi informasi, kolusi dan nepotisme ini?
Mengapa banyak pemimpin tidak mau turun langsung kelapangan dan menganalisa sendiri masalah yang dia lihat?
Malas! Mengapa mereka malas, padahal mereka digaji besar untuk itu, dan mereka kampanye untuk terjun langsung ke lapangan, untuk mendahulukan pemberdayaan masyarakat.
Mengapa politik uang ada dimana mana? Mau jadi bupati, walikota atau gubernur perlu banyak uang.
Mengapa ada DPRD menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk mendapatkan uang:
-Membuat peraturan daerah yang sudah tugasnya malah minta uang kepada eksekutif
-Membuat peraturan daerah bersama pemerintah malah meminta “studi banding” alias jalan jalan gratis dengan fasilitas hotel dan oleh oleh.
-Tidak pernah berjuang membuat peraturan daerah sendiri untuk meningkatkan kemajuan kota. Dinegara lain orang membuat ratusan peraturan yang menjadi kewajibannya di kita malah mempersulit pembuatan perda dengan ketidak tahuan akan ilmunya.
-Tidak mau merekrut ahli dalam pembuatan peraturan agar efektif, malah memakai kesempatan studi banding belajar ketempat lain yang tidak digunakan untuk benar benar belajar.
-Menjadikan ajang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Pemerintah sebagai peluang mencari kesalahan pemerintah yang nantinya akan “lolos” dengan aman dengan berbagai pelicin.
-Memanggil BUMN atau perusahaan swasta yang “bersalah” dan mengadili mereka dengan UUD, Ujung Ujungnya Duit.
-Bagaimana jadinya bila oknum DPRD main mata dengan ‘rakyat’ yang mau dibayar untuk demo ke perusahaan? Bukankah ini suatu kesempatan peluang duit lagi?
-Membuat setiap pemilihan walikota, bupati dan gubernur menjadi kesempatan panen sekali dalam lima tahun.
-Mengapa oknum DPRD pada saat penetapan mata anggaran setiap tahun, main mata dengan pemerintah membuat gaji mereka naik secara berlebihan, belum bonus, mobil dan sebagainya?
-Mengapa oknum DPRD tidak malu menjajah bangsanya sendiri dan dengan ketidak mengertian mereka atau dengan kenaifan mereka, maka Negara kita bisa semakin hancur.
-Mengapa tidak terpikirkan oleh mereka bahwa mereka digaji untuk bekerja, bukan untuk memeras dan mencari peluang uang lagi.
-Apakah pekerjaan mereka sehari hari yang produktif? Dapatkan mereka dikoreksi?
Mengapa hanya pengemis saja yang produktif menambang uang dipersimpangan, dan menjadikan pekerjaan mengemis sebagai sesuatu pekerjaan tetap yang halal?
Mengapa LSM yang mendapatkan proyek untuk membina gembel dan pengemis hanya dapat membuat rumah singgah dan tidak membuat paradigma mereka berubah.
Mengapa sebagian LSM tidak tahu bila dana block grant dari luar negeri untuk membina masyarakat itu tidak dimanfaatkan dengan baik, hanya akan membuat kita jadi tambah bodoh, memanipulasi laporan seolah oleh program terlaksana, tapi ternyata tidak.
Mengapa sebagian LSM tidak tahu dengan investasi pemberian asing tersebut, orang asing telah mempunyai ribuan jaringan di Negara kita, dan bila terjadi referendum atau strategi apa saja dari luar untuk memecah belah Negara kita, kehilangan bagian dari negara kita itu mungkin saja terjadi.
Kemanakah harga diri dan keanggunan bangsa kita.
Dimanakah peran ahli agama atau ulama?
Apakah mereka tidak tahu sudah sebobrok ini mental masyarakat yang harus dibinanya?
Apakah mereka masih bisa tenang tenang ibadah, ceramah sesuai pesanan?
Dapatkah para pemimpin agama tidur nyenyak melihat kekacauan mental bangsa kita?
Haruskah mereka takut mengatakan bahwa tindakan DPRD, pemerintah, masyarakat yang salah itu adalah salah!
Mengapa di Jepang dan Negara Negara Barat yang sebagian masyarakatnya tidak percaya lagi kepada Tuhan, justru masih kuat memegang nilai nilai kebenaran?
Mengapa di Negara yang halaman gerejanya dijadikan tempat kencing orang mabuk, karena dekat bar, justru mematuhi hukum dan aturan pemerintah selagi mereka tidak mabuk.
Apakah bangsa kita lagi mabuk padahal tidak minum? Sehingga tidak tahu lagi mana yang benar dan salah?
Apakah yang bertanya terus ini sedang hidup di alam lain? Ataukah kita sedang menuju kealam kehancuran?
Posted: August 20th, 2008 under Uncategorized.