PERSAINGAN KANDIDAT GUBERNUR
Erika Buchari 13 Agustus 2008
Mencermati gelagat Pilkada Sumatera Selatan yang beberapa bulan lagi akan terjadi secara langsung, maka sangat perlu bagi kita untuk merenung, menganalisis, dan mendudukan persoalan kepada hal yang sebenarnya. Pilkada singkatan dari pemilihan kepala daerah, artinya proses tersebut dilakukan oleh masyarakat bukan oleh kepala daerah itu sendiri. Yang ingin digaris bawahi adalah bahwa fungsi utama mesin politik disini adalah ada dan terletak pada masyarakat. Penting bagi masyarakat tahu bahwa dalam proses memilih diperlukan pengetahuan terhadap orang yang akan dipilih dan juga keinginan masyarakat seperti apa Sumsel ini jadinya nanti kalau kandidat tersebut terpilih. Ada 2 hal yang dapat terjadi, yaitu ”society driven”, dan ”candidate driven”. Keduanya kalau benar benar bermuara untuk kesejahteraan masyarakat, tentu tidak akan bermasalah. Tapi kalau sudah ada kata “driven” artinya menjadi dikendalikan oleh, kandidat atau oleh masyarakat. Kalau masyarakat sudah maju tentu mereka mengerti keinginan seperti apa nanti Sumsel ini dan indicator kinerja apa saja yang bisa mereka pantau untuk memonitor pemimpinnya. Bagaimana kondisi masyarakat kita? Apakah sudah cukup mampu menjadikan pilkada ini “community driven” atau “society driven”? Melihat gelagat yang ada, semua kandidat sepertinya melakukan tawaran kira kira apa yang disukai masyarakat, namun mereka belum mencoba mengajarkan kepada masyarakat tentang criteria yang dapat “diperhitungkan” masyarakat. Contohnya, dengan perhitungan kandidat gubernur dapat menawarkan sekian persen kemiskinan akan berkurang, sekian persen penduduk buta huruf akan terkurangi dan menjadi tidak ada lagi yang buta huruf pada tahun sekian. Mengapa para kandidat tidak berani menunjukkan angka? Karena memang di Negara kita ini terlalu banyak ketidak pastian (uncertainty) sehingga mereka tidak mau dianggap gagal kalau angka angka target tersebut tidak tercapai. Padahal, disinilah letak “kepiawaian” calon gubernur tersebut, berani bertarget yang tepat dan berani mengatasi ketidak pastian itu. Bagaimana mengatasi ketidak pastian kondisi tersebut bukanlah hal yang sulit bagi mereka calon calon yang mau bekerjasama dengan banyak pihak dan stakeholder di provinsi ini. Masih beberapa hari lagi pilkada berakhir, mari kita tunggu para kandidat mengajarkan masyarakat untuk mengerti akan hak hak mereka, bukan hanya berupa kesenangan kesenangan yang dijanjikan. Selamat berjuang untuk menjadi yang terbaik.
Recent Entries
- January 2012
- August 2009
- July 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008

